Hentikan Wacana Jembatan Jawa Bali, Jaga Bhisama Mpu Sidhi Mantra

Mangupura, Jarrakposbali, com | Wacana pembangunan Jembatan Jawa-Bali kembali bergulir di Medsos menyusul semakin padatnya kemacetan di penyebrangan Gilimanuk.

Apakah dengan di bangunnya Jembatan Jawa-Bali akan menyelesaikan masalah? Ataukah justru malah akan menambah masalah, terutama Pulau Bali yang kecil dan penduduknya sudah padat ini?

Berikut ini Jurnalis Jarrakposbali mewawancarai beberapa tokoh Bali yang berkompeten dengan masalah ini.

Pertama, ada Ketua PHDI Kabupaten Badung, Dr. Drs. I Gede Rudia Adiputra, M.Ag. Menurutnya,tetap menghormati Bhisama (fatwa) dari Mpu Sidhi Mantra yang melarang menyatukan Pulau Jawa dan Pulau Bali sebagai mana tertuang dalam cerita Manik Angkeran.

Namun demikian, Rudia Adiputra tidak berani memberikan penafsiran.Dan sebagai seorang akademisi yang mengkaji realita di lapangan bila Jembatan Jawa-Bali tersebut dibangun bukannya akan menyelesaikan masalah.



“Saya tidak akan mengulas ataupun memberikan penafsiran mengenai Cerita Manik Angkeran,tapi saya ingin menjelaskan realita di lapangan.Kemacetan di Pelabuhan Gilimanuk yang terjadi belakangan ini tidak dapat diselesaikan dengan pembangunan Jembatan.Apalagi nanti setelah Jalan Tol Mengwi – Gilimanuk beroperasi. Justru akan terjadi perpindahan penumpukan kemacetan di Terminal Mengwi. Dan terakhir semua akan bermuara di Kota Denpasar.Nah,dampaknya inilah yang justru bahkan pasti akan menimbulkan masalah besar bagi Bali.Hal inilah yang patut menjadi kekhawatiran kita bersama. Kita berada dalam NKRI,tidak boleh melarang orang masuk Bali asalkan mengikuti aturan,”terang tokoh Bali asal Seminyak ini.

“Perlu juga saya sampaikan baik kepada Pemda Bali dan juga Pemerintah Pusat agar sangat berhati-hati dengan Wacana Pembangunan Jembatan Jawa-Bali. Beranikah Pemerintah menjamin tidak akan terjadi dampak sosial dalam menangani kepadatan penduduk yang tidak terkendali di Bali? Saya sarankan hendaknya semua pihak tidak lagi membangun wacana ini.Urungkanlah! Pemerintah dan semua komponen terkait,mari lakukan penataan Bali yang kecil ini dengan sebaik mungkin, baik dibidang kependudukan, kehidupan sosial, budaya, adat dan Agama Hindu yang menjadi rohnya Pulau Bali,” imbuhnya.


Selanjutnya, Ida Bagus Pertama,Klian dan Penglingsir Paketan Semeton Gria Telaga Gelgel,Sanur dengan tegas menolak keras Rencana Pembangunan Jembatan Jawa-Bali.

“Ini kan wacana lama yang seperti sudah terkubur? Koq di Medsos ada muncul lagi? Saya dan kita orang Bali tidak akan pernah setuju dengan rencana itu. Jangan-jangan ini ada oknum tertentu yang berniat merusak Bali.Bali sudah pasti akan banyak dirugikan. Penduduk pendatang akan semakin gampang bersliweran ke Bali dengan tanpa identitas dan tujuan tidak jelas. Kehidupan sosial, perekonomian, keamanan dan ketertiban agar semakin parah. Dan kalau alasan kemacetan di Pelabuhan Gilimanuk, ya… salah satu alternatif, tingkatkan kualitas dan kuantitas armada atau Kapal Ferry di sana. Perbaharui dengan yang baru dan tingkatkan harga tiket serta mengawasan penumpang, sehingga yang menyebrang ke Bali tidak bisa sembarangan. Dan terakhir, saya mohon pemerintah jangan sampai mengeluarkan izin untuk rencana pembangunan Jembatan Jawa-Bali ini, ” pinta mantan Manager di beberapa hotel di Nusa Dua dan Legian ini.


Dan wacana yang diunggah di beberapa Medsos ini pun mendapat penolakan dari hampir semua Netizen yang menulis komentar mengingat sudah jelasnya dampak negatif yang akan ditanggung Bali bila rencana tersebut terealisasi. (Bratayasa)





 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *